Sabtu, 07 Mei 2011

PERADABAN YUNANI-ROMAWI

PUSAT-PUSAT KEBUDAYAAN DI EROPA

Di Eropa terdapat dua kebudayaan besar yang membawa perubahan besar bagi perkembangan Eropa. Kebudayaan itu berpusat di Yunani dan Romawi yang diperkirakan telah ada sekitar 2000 SM.

A. Yunani
Sekitar tahun 2000 SM, di Pulau Kreta telah berkembang suatu kebudayaan yang tinggi. Pusat kebudayaan itu berada di Kota Knossus, Phaistos, dan Mailin.

Peradaban Pulau Kreta
Pulau Kreta berada di antara Laut Tengah dan Semenanjung Yunani. Berita-berita tentang peradaban pulau ini ditemui dalam syair-syair Homerus yang dimuat dalam bukunya yang bernama Illias. Ia mengatakan bahwa Pulau Kreta didiami oleh beribu-ribu penduduk dan di sana ada 90 kota. Berita yang kedua diperoleh dari Aristoteles yang mengatakan bahwa Raja yang menguasai Pulau Kreta dan seluruh Kepulauan Egia yaitu Minos. Isi yang terdapat dalam kedua sumber itu hanya cerita-cerita tanpa disertai dengan bukti-bukti yang mendukung, sehingga sampai akhir abad ke-19, ahli-ahli sejarah memasukan sejarah Pulau Kreta ke dalam Sejarah Mitologi. Namun pada akhir abad ke-19, dalam sebuah penggalian di Pulau Kreta ditemukan benda-benda purbakala. Kejadian itu telah menarik ahli purbakala Jerman, Heinrich Schlieman yang menjadi sangat yakin bahwa pahlawan-pahlawan Troya dan Mycena yang disebut dalam syair Homerus benar-benar pernah hidup. Jadi itu bukan hanya cerita tapi peristiwa yang benar-benar terjadi di Yunani.
Rupanya di Pulau Kreta terdapat seorang raja yang bernama Minos yang mempunyai kekuasaan besar dan mempunyai armada yang kuat. Pembagian jaman di Pulau Kreta selanjutnya didasarkan atas masa pemerintahan Minos, yaitu masa antara 2700-2000 SM disebut jaman praminois ( Minois tua/ awal ) dan antara 2000-1700 SM disebut masa sesudah minois (minois muda/minois akhir). Raja-raja yang berkuasa di sini kekuasaannya sangat besar. Hal tersebut dapat diketahui dari peninggalan-peninggalan yang ditemukan.
Tahun 1895 seorang ahli purbakala Inggris, DR. Arthur Evans mengadakan penggalian di Pulau Kreta, di tanah yang dulu akan digali oleh Schlieman. Hasilnya sangat memuaskan. Ia menemukan bekas istana Raja Minos. Selanjutnya Ia mengadakan pembagian jaman atas hasil-hasil penggaliannya, bahwa periode antara 2000-1700 SM disebut masa istana-istana tua dan antara 1700-1200 SM disebut masa istana-istana baru.
Periode 2000-1700 SM, pusat pemerintahan Minos di Crossus. Berdasarkan hasil penggalian yang terdapat gudang besar dan bak-bak yang besar, para ahli menyimpulkan bahwa Raja yang berkuasa pada masa itu telah mengadakan pemungutan pajak dalam bentuk hasil-hasil bumi. Gudang dan bak-bak besar tadi diperkirakan untuk menyimpan gandum, minyak, dan anggur yang disetor oleh rakyat. Istana Minos juga mempunyai ruangan yang menyesatkan, yang disebut labyrinth. Labyrinth itu penuh dengan kamar-kamar, jalan rambat, dan pelataran. Setelah dilakukan penelusuran, Labyrinth itu demikian besar dan indah sehingga seringkali kali disebut cerita naluri.
Pusat peradaban Kreta selanjutnya pindah ke istana Agamemnon, istana raja negeri Mycene, yang letaknya di semenanjung Hellas. Mycene berperang dengan Troya. Diperkirakan perang itu disebabkan oleh orang Troya yang sering merampas dan memungut pajak terlalu banyak dari kapal-kapal Yunani yang mengambil gandum dari pantai-pantai Laut Hitam. Akan tetapi, menurut cerita naluri orang Yunani, perang itu disebabkan oleh karena seorang putera Troya telah melarikan Helena, permaisuri Menelaus raja Sparta (Nasution, : 70-71).
Sistem kepercayaan masyarakat Minos adalah politheisme. Masyarakat percaya, bahwa raja adalah keturunan dewa. Dewa-dewa disembah sebagai sumber kebahagiaan, bukan pencipta malapetaka Masyarakat juga percaya pada tenaga-tenaga gaib, jimat-jimat, dan benda-benda yang dianggap mempunyai kekuatan, disamping percaya pada dewa-dewa. Mereka juga percaya akan kehidupan setelah mati sehingga mayat yang telah dikuburkan dalam peti disertai dengan benda-benda yang disenangi pada waktu hidupnya. Alasan lainnya supaya arwah yang dimakamkan tadi betah dalam kuburnya.
Letak Pulau Kreta ada di persimpangan jalan antara Mesir ( Barat ) dan Phunisia (Timur). Tidak mengherankan jika pulau itu menjadi tempat perdagangan yang strategis dan ramai dikunjungi. Kota-kota di Pulau Kreta banyak berhubungan dagang dengan Mesir. Kota-kota di sini dibangun seperti gedung-gedung yang dibuat dari batu, jalannya lurus dan rata. Toko-toko yang menampung hasil kerajinan tangan ditemukan juga di sini. Namun pada tahun 1700 SM perdagangan di kota ini mengalami kemunduran. Kemunduran itu diperkirakan oleh dua kemungkinan, yaitu revolusi atau pemberontakan dan penyerbuan bangsa asing.
Setelah terjadi pemberontakan dan penyerbuan, istana Crossus mengalami kehancuran. Perkembangan berikutnya, istana-istana tua yang hancur tadi dibangun kembali dan masuklah pada jaman istana baru. Istana Crossus timbul lagi dan mencapai tingkat yang tinggi. Tahun 1580 SM terjadi lagi malapetaka. Diperkirakan hancur oleh kekuatan gempa yang disertai banjir telah menyapu istana-istana baru. Pendapat yang lain mengatakan hal itu mungkin disebabkan oleh serbuan bangsa asing yang datang dari Mycena. Bangsa Mycena inilah yang menghancurkan istana di Pulau Kreta. Sejak itu kedudukan Crossus terus menurun. Diperkirakan sampai 1200 SM Crossus lenyap untuk selama-lamanya.

Yunani Purbakala
Penduduk pertama dari daerah Balkan (Yunani) tidak diketahui dengan pasti. Namun diperkirakan penduduk daerah ini berasal dari Asia kecil. Kemudian datang bangsa-bangsa dari daerah padang rumput Hongaria/Rusia Selatan dan Asia Tengah. Mereka hidup dari peternakan sapi, biri-biri, dan kuda. Dari padang-padang rumput itu banyak bangsa-bangsa yang mengembara seperti bangsa Yunani yang sebenarnya masuk dalam satu kelompok bangsa Indo Jerman.
Sejarah Yunani kuno dibagi dalam empat periode, yaitu:
1. Masa sampai 800 SM disebut jaman pembentukan negara-negara kota. Masa ini merupakan masa konsolidasi
2. 800-600 SM disebut abad kolonisasi yang merupakan masa ekspansi keluar negeri.
3. 600-400 SM merupakan jaman kejayaan atau jaman keemasan
4. Sesudah 400 SM merupakan jaman kemunduran

Pertengahan ke-2 abad ke-4 SM, polis Yunani dibawah Iskandar Zulkarnaen dari Macedonia dua abad kemudian daerah ini jatuh ketangan Romawi, bangsa Yunani atau disebut juga Hellen yang menyerbu ke semenanjung balkan pada garis besarnya datang dalam 3 gelombang. Hellen adalah nama nenek moyang bangsa Yunani yaitu seorang raja yang memerintah didaerah Thesalia, anaknya yang bernama Theolus → Aeolia, Darius →Daria, Acheus → Achea, Yor →Lonea.
Karena itu bangsa Hellen kumpulan suku bangsa Aeolia, Daria, → manghasilkan suku bangsa Achea, Lonea.
 Gelombang I → ± 1500 SM terdiri dari bangsa Lonea, masuk ke sebelah Tenggara di mana terdapat kota Athena.
 Gelombang II → ± 1450 SM terdiri dari bangsa Teolia masuk ke sebelah barat laut.
 Gelombang III → ± 1100 SM terdiri dari bangsa Doria mereka pergi keselatan dimana terdapat kota Sparta dan ke Pulau Kreta.

Balkan terbagi-bagi oleh suku-suku bangsa ini yang gabungannya disebut bangsa Yunani, meskipun mereka seketurunan tetapi mereka hidup bermusuhan sehingga dalam usaha menduduki daerah Yunani dan sekitarnya mereka sering desak mendesak. Bangsa Yunani ini sesudah sampai didaerah Balkan mereka mengubah cara hidupnya. Dahulu mereka waktu masih di padang rumput hidup secara nomadden, sekarang mereka menetap dan mengerjakan pertanian diselang dengan perampokan. Kemudian timbul suatu perkembangan yang khusus yaitu mereka hidup dalam suku-suku dalam perkampungan dari beberapa perkampungan yang besar timbullah kota. Penduduk kota ini kemudian melepaskan diri dari hubungan suku sehingga kota-kota itu bebas berdiri sendiri-sendiri dan menjdai kota negara/Polis/City State. Hasrat untuk berdiri sendiri dalam bentuk Polis disebabkan:
1. Karena bangsa Yunani mencintai kemerdekaan, ingin mengurus pemerintahan sendiri, tidak mau diperintah oleh pemerintah pusat yang jauh, mereka berpendapat kalau luas negara itu terlalu besar, maka urusan akan terbengkalai. Jadi yang sebaik-baiknya bagi mereka negara itu sebesar kota.
2. Faktor geografis semenanjung Balkan terbagi dalam bagian-bagian sebagai akibat dari banyaknya gunung-gunung dan teluk-teluk yang jauh kedalam, sehingga daerah itu terpecah-pecah dan memaksa suku-suku untuk berdiri. Besar kedudukannya menjadi republik, yang memegang kekuasaan golongan aristokrat (golongan bangsawan).

Peradaban suku Doris
Di antara tahun 1200 dan 1000 SM, Hellas dibanjiri oleh bangsa-bangsa baru dari utara. Bangsa Doris menetap di Peloponnesus dan Kreta. Bangsa Ionia menduduki Attica (dengan kota Athena), pulau-pulau di laut Egeia dan pantai-pantai barat Asia kecil. Pada masa itu tidak ada kesatuan negara Hellas,. Kalau kita perhatikan peta Hellas, maka tampaklah dengan nyata, bahwa tanah itu terbagi-bagi oleh barisan-barisan gunung dan banyak teluk. Karena itu tanah Hellas pecah menjadi beberapa daerah kecil-kecil yang terpisah-pisah. Pada tiap-tiap dataran dan lembah yang memberi kesempatan kepada kaum tani untuk menggembalakan ternaknya, pada tiap-tiap teluk tempat kaum pelaut dan nelayan dapat menyelamatkan perahunya, terjadilah kota-kota kecil yang lambat laun menguasai tanah sekelilingnya. Kota-kota itu (polis=kota) akhirnya merupakan kesatuan-kesatuan kenegaraan (misalnya: Athena, sparta, Korinthe dan Thebe). Pada zaman-zaman yang tertua polis itu dikepalai oleh seorang raja yang melakukan pemerintahannya berdasarkan kata mufakat dengan penghulu-penghulu keluarga. Kadang-kadang raja itu disingkirkan; maka penghulu-penghulu itulah yang memegang pemerintahan. Itulah yang dinamai republik aristokrasi (aristoi=orang-orang yang tercakap; re(s)=urusan; publik=umum). Apabila seorang dari pada para penghulu itu dapat merebut kekuasaan untuk dirinya sendiri, maka penghulu yang merebut kedudukannya dengan tipu atau kekerasan itu dinamai tiran. Timbalan aristokrasi (=kekuasaan ada pada orang-orang yang tercakap) ialah demokrasi (kekuasaan ada pada rakyat) dan autokrasi (kekuasaan ada pada satu orang) (Nasution, : 72).

Bentuk pemerintahannya menjadi republik aristokrasi →Berasal dari kata :
 Aristoy →terbaik/tercakap
 Kratein →memerintah.

Aristokrat → pemerintahan yang terbik, yaitu golongan bangsawan.
Hanya Sparta saja yang rajanya ada dua orang, tapi tidak memegang kekuasaan raja hanya sebagai pemimpin perang saja dan kedudukannya tidak tinggi sekali. Sebab raja pada orang Yunani hanya yang pertama diantara yang lain-lainnya ( primus interpares).
Kekuasaan raja dibatasi oleh kekuasaan, jika raja akan mengambil suatu keputusan, Ia harus meminta pendapat dulu dari dewan bangsawan dan jika akan mengambil keputusan yang sangat penting maka Ia harus mengumpulkan dahulu seluruh rakyat untuk diminta pendapatnya.
Pemerintah republik yang dipegang kaum bangsawan lama-lama menekan rakyat, disamping itu tanah yang kurang subur dan tidak dapat memberi makan yang cukup kepada penduduknya menyebabkan penduduk yang pindah ke koloni-koloni. Kadang-kadang terdapat panen yang gagal sehingga petani-petani terpaksa menggadaikan tanahnya kepada golongan yang mampu (bangsawan) dan akhirnya banyak yang jadi budak karena utang-utangnya. Hal ini menimbulkan ketegangan di masyarakat dan timbul pemberontakan dari petani-petani yang dipimpin oleh orang-orang bangsawan yang merasa tidak puas dengan keadaannya karena tidak semua bangsawan yang duduk dipemerintahan dengan bantuan rakyat ini mereka berhasil menumbangkan kekuasaan dan pemimpinnya memegang kekuasaan penuh untuk memimpin rakyat dan bangsawan. Pemimpin ini disebut Tyran dan pemerintahannya disebut Tyrani. Tindakan pertama dari Tyran yaitu merampas tanah-tanah milik bangsawan dan dibagi-bagikan kepada rakyat sehingga Ia mendapat dukungan dari rakyat. Ternyata kemudian pemerintahan Tyran ini tidak dapat dipertahankan terus karena banyak Tyran yang tidak bijaksana sehingga timbul pemberontakan lagi di masyarakat yang menyebabkan jatuhnya pemerintahan itu dan pemerintahan itu dipegang oleh rakyat, timbullah pemerintahan oleh rakyat yaitu demokrasi → Demos : Rakyat → Kratos : Pemerintahan → pemerintah di tangan Rakyat.

Sparta.
Sebuah Polis Lakonia penduduknya keturunan bangsa Doria, mereka berusaha untuk memperluas daerahnya dengan menguasai bangsa-bangsa yang ada sekitarnya. Sparta berusaha menundukan bangsa Messenia dan akhirnya bangsa ini dapat ditundukan dan dijadikan budak yang bernama golongan Helot. Tugas golongan Helot ialah menjamin bangsa Sparta, mereka harus mengerjakan tanah dan hasilnya untuk bangsa Sparta. Pada waktu itu jumlah golongan Helot ±250 ribu orang sedangkan bangsa Sparta ± 12-15 ribu orang sehingga dapat dikatakan golongan minoritas. Menjajah golongan minoritas hal ini dapat dilakukan dengan cara yang luar biasa yaitu seluruh bangsa Sparta dijadikan militer, bangsa Sparta mempunyai satu jabatan yaitu military. Sedangkan keperluan hidupnya telah dihasilkan oleh golongan Helot.Untuk mencapai keadaan ini bangsa Sparta menjalankan sistem palisi rahasia dan sebagia akibat yang terus-menerus tegang dan waspada maka dijalankan militerisasi secara keseluruhan. Setiap warga negara sejak umur 7 tahun, wajib mengikuti pendidikan militer mereka ditempatkan diasrama sampai berumur 30 tahun. Sesudah berumur 20 tahun mereka boleh menikah, tapi masih harus tinggal di asrama dan dilatih sebagai tentara biasa, baru pada umur 30 tahun meraka jadi warga negara penuh dan tinggal dirumah tetapi makan/minum diadakan di bawah kepala pasukannya. Peraturan yang keras ini, dikeluarkan oleh pemimpin Sparta yang bernama Lycurgus ± 610 SM. Dalam suasana yang tegang kebudayaan tidak dapat berkembang karena itu pula di Sparta tidak ada demokrasi segala sesuatu harus berdasarkan peraturan dan yang ada peraturan kemiliteran.
Toynbee mengambil Sparta sebagai contoh dari kebudayaan yang tertahan Pada pucuk pimpinan ada dua orang raja yang mempunyai kekuasaan mutlak bila timbul peperangan negara dalam keadaan perang mereka menjadi kepala pemerintahan, kepala angkatan perang dan pendeta tertinggi dilapangan agama disamping mereka dibentuk sebuah dewan yang disebut Gerusia yang terdiri dari 28 orang bangsawan sebagai penasehat raja, ternyata dalam praktek pemerintahan jumlah 28 ini melambangkan jalannya pemerintahan, maka dibentuklah dewan kecil yang disebut Ephor jumlahnya 5 orang anggota. Dilapangan pengadilan ephor ini mempunyai hak yang besar dan dapat raja dimuka pengadilan dalam keadaan perang, dua diantara mereka turun ke medan perang sebagai pengawas. Faktor inilah dalam prakteknya yang memegang kekuasaan raja dan ephor harus bersumpah waktu menerima jabatannya.
Negara Sparta di tanah Laconia yang diperintah oleh bangsa Doris ialah negara aristokratis. Pemerintahan dipimpin oleh dua orang raja bersama-sama. Sesungguhnya raja itu tak lain daripada panglima belaka. Penduduk Sparta bangsa Doris itupun sesungguhnya kaum militer. Penduduk asli tanah laconia disuruhnya bekerja untuk mereka. Penduduk asli itu tidak mempunyai hak sama sekali. Mereka itu sedikitpun tak lebih dari pada budak; mereka itu disebut helut. Anak-anak orang militer Sparta itu sejak berumur tujuh tahun diberi didikan militer. Mereka dicabut dari keluarganya, diasuh di dalam tangsi, dibiasakan kepada disiplin yang keras, kedinginan dan keletihan. Makanannya sangat sederhana: daging babi direbus dalam darah, dimasak dengan cuka dan garam. Jika ditanyai harus menjawab dengan singkat dan tegas (jawab lakonik).
Dengan cara demikian orang Sparta dididik menjadi serdadu, bukan menjadi sarjana atau seniman. Karena itu Sparta tidak mewariskan pengetahuan atau kesenian kepada dunia. Cita-cita orang Sparta ialah perang. Orang Sparta dilarang mengerjakan perusahaan tangan atau berdagang. Uang besi mereka yang tidak disukai oleh negeri-negeri tetangganya, tidak memberi mereka kemungkinan melakukan perdagangan dengan negeri lain. Karena kekuatan militernya itu maka lama benar Sparta memegang hegemoni (pimpinan) di Hellas, lebih-lebih karena mereka memaksa negeri-negeri lain menjadi anggota persekutuan negara yang dipimpin oleh Sparta (Nasution, : 72-73).


Athena.
Kota Athena, yang menguasai semenanjung-tandus Attica, pada zaman-zaman yang tertua diperintah oleh seorang raja. Cerita naluri memberitakan, bahwa raja Aegeus (asal nama Laut Aegeia) dalam putus asanya menyeburkan diri ke laut, karena ia mengira bahwa anaknya, Theseud, tewas dalam perkelahiannya melawan Minotaurus di Kreta.
Dalam abad ke-8 SM pemerintahan oleh raja itu dilenyapkan oleh aristokrasi. Lambat laun Athena menjadi kota perdagangan. Kaum pedagang Athena mendatangkan gandum yang murah dari Mesir dan Rusia Selatan. Akibatnya: pendapatan kaum tani di Attica mundur sekali. Karena itu mereka tiada senang hatinya.
Kira-kira tahun 600 SM Solon membuat peraturan pemerintahan baru yang memberi hak kepada orang kecil menghadiri rapat rakyat yang menetapkan undang-undang. Sungguhpun begitu belum tercapai ketentraman politik. Beberapa puluh tahun lamanya Athena berganti-ganti diperintahi oleh seorang tiran, yang masing-masing merebut kekuasaan pemerintahan untuk dirinya sendiri. Akhirnya pada tahun 500 SM Athena menjadi republik demokratis.
Sumber untuk segala hak politik ialah rapat rakyat. Sudah sejak zaman pemerintahan raja telah ada dewan kaum bangsawan, Areopaag nama dewan itu. Areopaag itu bersidang di atas bukit Acropolis yang didatarkan puncaknya, sebuah bukit di tengah kota Athena. Rapat itu merupakan pengadilan yang tertinggi. Di samping dan di bawah pengawasan Areopaag itu ada dewan sembilan orang archonta yang tugasnya menjalankan pemerintahan (arche-pemerintah). Mula-mula yang diangkat menjadi Areoopag dan archonta itu hanyalah Solon membagi penduduk Athena dalam empat golongan, masing-masing menurut pajaknya. Archonta dipilih dari golongan pajak yang tertinggi.
Pada waktu itu didirikan juga dewan baru, yakni dewan empatratus (orang), kemudian menjadi dewan limaratus. Dewan baru itulah yang membuatkan rencana undang-undang untuk rapat rakyat. Kecuali golongan pajak yang terendah, segala golongan boleh dipilih untuk dewan empatratus itu. Untuk rapat rakyat tak ada golongan yang dikecualikan, asal calon anggota itu murnya sudah lebih dari 20 tahun. Rapat rakyat (=ekklesia) mengambil keputusan tentang segala usul dewan. Pemungutan suara dilakuakn dengan mengangkat tanagn.
Dalam abad ke-6 dan ke-5 SM, pemerintahan menjadi demokratis sama sekali. Segala perbedaan golongan dihapuskan. Areopaag makin surut kekuasaannya. Rapat rakyat memutuskan segala urusan. Setiap pegawai mesti dipilih. Pangkat-pangkat rendah diundi antara mereka yang melamar. Tak mengherankanlah, bahwa dalam keadaan yang serupa itu pemimpin-pemimpin rakyat yang fasih berbicara (=demamgoog) memperoleh pengaruh besar dalam pemerintahan. Agar jangan ada yang mendapat kesempatan untuk menjadi tiran, maka dalam taat negara Athena ada termuat
Peraturan ostracisme. Apabila pada rapat-rakyat ada 6000 orang yang menghendakinya, maka seseorang yang dipandang berbahaya bagi masyarakat harus dibuang. Pemungutan suara mengenai usul itu dilakukan dengan rahasia. Nama orang yang akan dibuang itu dituliskan dengan rahasia. Nama orang yang akan dibuang itu dituliskan pada pecahan tembikar, kartu-kartu pemungutan suara seperti itu dinamakan ostrakon. Itulah asal kata ostracisme. Dasar demokrasiyg kita gambarkan itu jauh sekali bedanya dari pada demokrasi modern. Dewan perwakilan rakyat belum ada pada masa itu. Rakyat—artinya penduduk yang merdeka, bukan kaum budak yang banyak sekali jumlahnya---mengambil keputusan dengan langsung (demokrasi langsung). Dalam negara modern yang berjuta-juta jumlah penduduknya, demokrasi langsung (dengan perantaraan wakil). Yang dipilih menjadi wakil itu ialah orang yang tercakap. Jadi demokrasi modern sebenarnya…aristokrasi, akan tetapi aristokrasi itu tidak turun-temurun, jadi hanya untuk sementara saja. Demokrasi modern sekarang ini pada hakekatnya ialah: memberi hak-hak yang sama dan kemungkinan-kemungkinan yang sama bagi setiap warganegara (Nasution, :73-75)
Antara Sparta dan Athena terdapat perbedaan besar, Athena mendiami bagian Timur dari Yunani Tengah Mereka keturunan bangsa Ionea rakyat yang ditaklukannya dijajah tapi diberi kewarganegaraan Athena dan diajak kerjasama dalam urusan pemerintahan. Dengan demikian terdapat suasana bebas dan tidak ada ketegangan , dalam suasana yang bebas timbul kebudayaan yang tinggi dan dipakai oleh Toynbee sebagai contoh dari kebudayaan yang tidak tertahan dan memberi kemungkinan berkembang.
Penduduk disini terdiri dari golongan bangsawan petani, pekerja / tukang-tukang. Pemerintahan disini mula-mula monarki kemudian ditumbangkan. Jadi republik aristokrasi pemerintahan dipegang oleh suatu badan yang disebut Aeropagus yang anggotanya terdiri dari golongan bangsawan dan kekuasaan yang tertinggi dipegang oleh bangsawan yang disebut arcon dalam republik aristokrasi ini kemudian timbul kekacauan dan akhirnya kekuasaan dipegang oleh seorang Tyran tahun 594 SM. Kekuasaan dipegang oleh solon, Ia tidak mau memegang kekuasaan mutlak, Ia ingin demokrasi dan kekuasaan dipegang oleh hukum. Solon menyusun UU yang dipahatkan pada batu dan pada papan yang telah dilabur putih.
Dengan demikian Ia mendirikan negara demokratis di Athena. Setelah konstitusi ini diumumkan diumumkan, Ia pergi merantau. Konstitusi ini merupakan peraturan baru dilapangan perdata dan pidana . Solon mengetahui kekacauan di masyarakat itu disebabkan karena rasa tidak puas karena banyak yang jadi budak akibat tidak dapat membayar utang-utangnya semua tanah yang digadaikan oleh solon dihapuskan dan gudang-gudang dibebaskan. Tindakan-tindakan lain yaitu pemberitaan amnesti kepada tahanan politik yang tidak bermakna melakukan kudeta Coup d’etat dan semua warga negara sama kedudukannya dilapangan hukum.
Masyarakat Attica (penduduk athena) dibaginya dalam 4 kelas menurut kekayaannya. Hak-hak dan kewajibannya ditentukan menurut kelas masing-masing, misal kelas ke 4 (yang paling rendah) bebas dari pajak tetapi hanya boleh menjadi prajurit biasa, sedangkan kelas pertama boleh menjadi archon (penguasa) dan boleh memegang jabatan tinggi dalam ketentaraan. Kelas dua boleh memegang jabatan pada tentara berkuda / kavaleri dan kelas tiga pada infantri.
Dibidang pemerintahan dibentuk sebuah badan yang disebut,:
 Aeropagus, anggotanya terdiri dari para Archon yang telah habis masa jabatannya, tugasnya mengamati rakyat dan pegawai, menghadiri hal-hal yang dianggap sebagai penghianatan terhadap negara dan yang menyangkut jiwa raga.
 Buole, anggotanya diambil dari tiap kelas sebanyak 100 orang tugasnya menetapkan Archon dengan jalan pemilihan dan meminta partanggungjawabkan dari padanya juga berhak menghukum archon-archon bila melakukan kesalahan.
 Heliaca, suatu badan yang beranggotakan 6000 orang terdiri dari warga negara 4 kelas, pemilihannya dengan jalan undian. Tugasnya, mengadili suatu perkara ( perdata dan pidana) kecuali yang masuk tugas aeropagus.

Sesudah Solon meninggal kekuasaan dipegang oleh Tyran yang lama yaitu, Peisentratus ± 560 Sm. Ia memajukan perdagangan dan pelayaran. Keuntungan dari usaha-usaha ini telah menimbulkan harga diri para bangsa Athena dan dipergunakan untuk memperindah kota Athena. Gedung-gedung besar mulai didirikan dan diadakan pesta untuk menghormati dewa anggur “oynisos”, pada perayaan ini diadakan juga sandiwara terbuka yang merupkan permulaan dari seni drama dan sastra Yunani. Pemerintahan Tyran cuma berlangsung 508 SM Akhirnya cita-cita demokrasi menang kembali sejak itu aturan-aturan solon dijadikan pegangan oleh negara luar-luar Athena. Meskipun ada perubahan-perubahan tetapi pokok dasar pikiran yang terdapat di dalamnya tetap berlaku.

Gambar Socrates
(Ancient History, Adams&Co: 1959)

Kepercayaan bangsa Yunani melahirkan banyak bangunan untuk memuja para dewa. Bangunan pemujaan itu didirikan di daerah koloni, seperti di Italia Selatan (Kurl, Harakles dan Zeus) dan di Milete (kuil Apollo). Di Yunani sendiri bangunan-bangunan itu ditemukan di daerah Korinthe, Delfi, dan Aigina. Bangunan lain yang terkenal adalah Akropolis di kota Athena. Sebagian dari bangunan itu sampai sekarang masih berdiri. Bangsa Yunani baru terbentuk sekitar tahun 1000 SM. Pada suatu saat antara Sparta dan Athena akan timbul perebutan kekuasaan tertinggi di Yunani tetapi untuk sementara tertunda karena ada musuh dari luar yaitu Persia. Pada tahun 500 SM, bangsa Yunani terlibat dalam perang melawan Persia. Saat itu yang berkuasa di Persia adalah Darius Agung. Perang Persia terjadi karena Yunani membantu orang-orang di daerah Asia Kecil yang sedang melawan Raja Darius. Perang itu dikenal dengan sebutan Perang Yunani-Persia.

B. Romawi
Romawi Purbakala
Terletak di semenanjung Apenina yang membujur dari Utara ke Selatan pegunungan-pegunungan Italia bersifat tidak memisahkan suku-suku karena itu di Romawai kesatuan lebih mudah tercapai. Semenanjung ini berarah ke Barat. Hal ini mengakibatkan Romawi tidak cepat terpengaruh oleh kebudayaan Timur maka pencaharian sebagian besar terdiri dari pertanian karena daerah ini lebih subur dari Yunani. Penduduk-penduduk tertua sisa-sisanya terdapat dalam gua-gua, kemudian ± 2000 SM terjadi perpindahan bangsa-bangsa yang waktunya hampir bersamaan dengan di Yunani. Jadi bangsa-bangsa yang masuk ke Yunani dan ada yang masuk kedaerah Itali mungkin mereka berasal dari pegunungan di daerah Swiss atau mungkin dari padang rumput Hongaria. Suku-suku yang mendiami daerah itu disebut Indo Jerman diantaranya suku latin yang mendiami daerah disekitar muara sungai Tibet tempat kota Roma sekarang, ± 800 SM datang gelombang baru dari Asia kecil yaitu bangsa Etruska. ± 650 SM datang kedaerah ini bangsa Yunani , koloni-koloni Yunani terdapat di Italia Selatan dan Pulau Sicilia. Kedatangan bangsa Yunani ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap Romawi. Ternyata suku-suku yanghidup di semenanjung ini masing-masing menjalankan ekspansi, suku yang terkuat yang paling berpengaruh dan berkuasa adalah suku Etruska. Suku ini mulai menguasai daerah latin yang disebut Latium dan dapat menduduki kota Roma kemudian suku-suku yang lainnya bersatu untuk menghadapi bangsa Etruska ± 500 SM kota Roma bebas dari penjajahan bangsa Etruska. Begitu pulau ekspansi bangsa Yunani dapat ditahan pada waktu itu bagian tentara diduduki oleh suku Galia yang mendiami lembah sungai Po. Sejarah Romawi seterusnya dapat dikatakan sejarah kota Roma karena Roma yang jadi pusat.

Timbulnya Kekuasaan Roma.
Menurut cerita kota Roma didirikan tahun ± 753 SM, keterangan ini kita peroleh dari Vergillius. Katanya seyelah Troya menderita kekalahan, maka ada seorang pahlawan yang bernama Aenaes keturunan dewi Aphrodite (dewi kecantikan). Telah datang kedaerah sebelah Selatan muara sungai Tibet Aenaeous mendirikan sebuah kota didaerah ini bernama Alba Longa, cerita ini dibukukan dalam buku yang bernama Aenaeide kemudian di kota Alba Longa ini ada seorang putri raja yang merupakan keturunan dari Aenaeas yang bernama Rhea Silvia yang menikah dengan Dewa Mars (dewa perang). Dari pernikahan ini lahirlah dua orang anak kembar yaitu Romulus dan Remus, dua orang anak ini ditinggalkan oleh ibunya dan diasuh oleh srigala raksasa. Dua orang anak inilah yang mendirikan kota Roma dan menjadi raja-raja yang pertama.

Susunan Pemerintahan Monarkhi.
1. Terdapat seorang raja yang menjadi kepala negara dan panglima tertinggi dalam perang dan dalam kota sebagai hakim dan imam tertinggi.
2. Kekuasaan legislatif dipegang oleh senat yang beranggota 300 orang terdiri dari kepala-kepala keluarga dari golongan terkemuka atau golongan patricia sebagi penasihat raja.
3. Dewan rakyat yang terdiri dari kepala-kepala suku tetapi tidak mempunyai kekuasaan banyak.

Tahun 510 SM bangsawan berhasil mendesak raja-raja dan timbullah republik Roma jadi republik aristokratis.

Pemerintahan Aristokrat.
1. Kekuasaan eksekutif dipegang oleh dua orang konsul dengan masa kerja 1 tahun tetapi dalam keadaan bahaya dapat ditunjuk seorang diktator yang mempunyai kekuasan penuh untuk 6 bulan.
2. Senat, tugasnya mendampingi konsul dalam jabatannya dan berhak menasehatinya mereka terdiri dari golongan Patrisia, juga berhak memegang jabatan baik dalam kenegaraan maupun keagamaan (golongan yang berkuasa di Roma).
3. Dewan Rakyat, tugasnya meratifikasi UU bila diminta dan berhak meninjau kembali keputusan hukuman mati terhadap warga negara.

Kemudian timbul perjuangan antara golongan yang terdiri dari keluarga-keluarga yang terkemuka dengan golongan rakyat jelata (plebeya) . ± tahun 500-300 SM yang dipertaruhkan dalam perebutan kekuasaan ini adalah supaya golongan rakyat diperkenankan memegang berbagai jabatan akhirnya golongan rakyat dapat mengangkat dua orang wakilnya dalam pemerintahan yang disebut tribune menjadi pembela rakyat dan mempunyai hak Veto artinya dapat melarang keputusan-keputusan yang diambil oleh golongan patricia.

Golongan Patricia.
Menurut suatu pendapat golongan ini adalah penduduk kota Roma yang pertama dan golongan plebeya adalah yang datang kemudian pendapat yang lain golongan patrisia adalah golongan yang paling kaya.
Dalam perjuangan ini golongan plebeya berhasil merebut kemenangan-kemenangan, misalnya :
1. Tahun 450 SM, mereka menuntut supaya hukum-hukum negara digoreskan pada 12 buah papan kayu supaya dapat jadi pegangan bagi mereka.
2. ± tahun 400 SM golongan plebeya diperkenankan menjadi pemimpin-pemimpin negara.
3. Tahun 367 SM dijalankan yang disebut Lex Lycinia artinya satu diantara 2 orang konsul dari golongan plebeya.
4. Tahun 300 SM dijalankan yang disebut Lex Ogulnia artinya jabatan imam tertinggi juga terbuka bagi golongan plebeya.

Dengan demikian setelah berjuang ± 2 abad maka tercapailah persamaan hak diantara kedua golongan tadi. Sesudah terdapat persamaan ± 300 SM maka dengan mudah tenaga rakyat Roma disatukan untuk menghadapi dunia luar dan tibalah saatnya Roma menjalankan ekspansi.
1. Suku-suku yang tinggal berdekatan dikuasai oleh Roma.
2. Peperangan melawan koloni-koloni Yunani diantaranya Tarente yang mendapat bantuan dari raja Pyrrhus dari epirus di daerah Macedonia. Pyrrhus seorang yang pandai berperang dan telah merebut kemenangan-kemenangan di Heraclea dan Ausculum dalam pertempuran di Ausculum ini Ia menang tetapi kerugiannya sangat besar karena itu kemudian terdapat istilah kemenangan pyrrus bagi kemenangan yang memakan korban sangat besar. Akhirnya ia kalah di Benephentum, karena datang dari jauh.
3. Perang melawan Karthago yang dijalankan dalam 3 bagian 264-146 SM, sebab-sebabnya perebutan hegemoni di laut selatan. Karthago adalah koloni bangsa Phunisia yang berdiri sendiri.

Golongan Proletar
Kata proletar sudah ada sejak jaman Romawi artinya yang tidak punya apa-apa kecuali anak. Golongan ini berasal dari sebagian besar petani-petani kecil, petani-petani ini kehidupannya dirusak oleh peperangan yang terus-menerus pada waktu itu , sebagia pemilik tanah mereka harus mempertahankan tanah airnya (menjadi tentara). Akibatnya tanah mereka tidak dikerjakan sedangkan tuan-tuan tanah bekerja dengan tenaga-tenaga budak yang tidak dibayar, mereka ini tidak mungkin bersaing dengan golongan tuan tanah dalam keadaan seperti ini modal besar secara sistematis mulai membeli tanah-tanah petani ini sehingga mereka akhirnya kehilangan tanahnya. Seluruh tanah dikuasai oleh tuan-tuan tanah, petani-petani meninggalkan kampung halamannya menuju kota Roma dengan membawa uang hasil penjualan tanahnya itu dalam waktu yang singkat uang itu habis timbullah golongan yang tidak punya apa-apa yang disebut golongan proletar (popularis).
Mereka hidup dengan jalan yang tidak baik dan membuat kota Roma jadi tidak aman karena perampokan-perampokan. Mereka ditenangkan oleh pemerintah dengan roti dan permainan kadang-kadang diadakan permainan gladiator (gladios: perang) sambil menonton mereka mendapat roti. Cara lain ialah dengan menjual suaranya kepada pemimpin-pemimpin partai politik dengan harga yang termahal dengan tidak memperdulikan siapa yang baik atau buruk. Keadaan semacam ini dirasakan oleh ahli-ahli negara yang sungguh-sungguh sebagai sesuatu yang tidak dapat dibiarkan. Golongan proletar harus ditolong, diantara ahli-ahli politik itu terdapat 2 orang bersaudara yaitu Tiberius Gracchus dan Grairus Gracchus.
Mula-mula Tiberius bertindak tahun 133 SM Ia berhasil dipilih menjadi seorang tribune yang dapat merebut kekuasaan. Ia berusaha memperbaiki keadaan masyarakat dengan jalan pemilikan tanah yang makin meluas sebab hal ini merugikan bagi petani kecil. Tiberius mengeluarkan UU Agraria yang berisi :
1. Pembatasan luas daerah pertanian yang dimiliki seseorang .
2. Tanah yang kelebihan diambil oleh pemerintah dan dibagi-bagikan kepada golongan proletar supaya mereka dapat kembali lagi kedaerahnya.

Tetapi golongan optimat tidak tinggal diam mereka bersatu untuk menjatuhkan Tiberius dan menunggu sampai masa jabatannya habis dalam pemilihan berikutnya, Ia kalah dan dalam keributan Ia mati terbunuh. Golongan optimat berkuasa lagi, UU agraria dihapuskan 10 tahun kemudian ± 123 SM status gracchus terpilih menjadi seorang tribune Ia mempunyai cita-cita sama dengan kakaknya UU agraria dijalankan lagi. Sedangkan kaum proletar sudah senang bermalas-malas sehingga tidak mau untuk pulang lagi dan menggarap tanah.


















Rangkuman

Kalau keadaban Eropa itu boleh kita umpamakan sungai besar, maka sumber-sumber dan batang-batang airnya yang terpenting, yang memberi sungai itu air, letaknya di Hellas. Sumber-sumber itu mengandung dasar-dasar ilmu pengetahuan Eropa, kesenian, ajaran-ajaran politik, dasar-dasar hukum dan kebebasan-kebebasan dalam lapangan politik. Sebaliknya, keadaban Yunani itu mengandung anasir-anasir keadaban Mesir (melalui Kreta) dan keadaban Asia. Sepanjang sejarah, tanah Hellas itu mendapat berbagai-bagai nama. Penduduknya sendiri pada waktu itu menyebut negerinya: Hellas; orang Rum menyebutnya tanah Griek; oleh orang Indonesia negeri itu lazim disebut Yunani (asalnya dari Ionia, yakni nama suku bangsa di negara Yunani).
Bangasa Yunani yang pertama berasal dari ras Indo-Jerman. Mereka datang dari daerah sebelah utara. Percampuran bangsa itu dengan penduduk asli menghasilkan sebuah kebudayaan baru yang dikenal sebagai kebudayaan Mycenae. Setelah itu, datang bangsa Ionia (asal kata Yunani), Aedia, dan Doria. Sebelum bersatu menjadi bangsa Yunani, mereka masing-masing mendirikan suatu pemerintahan kota (polis). Kota itu dikelilingi tembok pertahanan. Dalam melaksanakan pemerintahan polis iu lahir istilah “politik”. Dua polis yang utama adalah Sparta dan Athena. Tata pemerintahan Sparta dipelopori oleh Lykurgus (900 SM). Pemerintahan dipegang oleh kaum bangsawan militer. Pemerintahan Athena digariskan oleh Solon (600 SM). Dalam pemerintahan Athena, kekuasaan berada di tangan rakyat. Rakyat memilih wakil-wakilnya untuk melaksanakan pemerintahan. Bentuk pemerintahan seperti itu disebut demokrasi.
Bangsa Yunani memiliki peradaban yang tinggi. Peradaban itu diwarisi dan dikembangkan oleh bangsa barat. Peradaban Yunani sangat luas karena mencakup banyak bidang. Di bidang kepercayaan, orang Yunani menyembah dewa-dewa. Dewa-dewa itu digambarkan sebagai manusia biasa tetapi lebih sempurna, misalnya dewa Zeus dan dewa Apollo. Selain itu, bangsa Yunani juga terkenal ahli di bidang sastra. Buku-buku yang terkenal dari zaman itu, antara lain adalah cerita kepahlawanan Illiad dan Odysseus, karya Homerus. Tokoh filsafatnya antara lain adalah Socrates, Plato, dan Aristoteles. Ahli sejarah bangsa Yunani antara lain adalah Herodotus dan Thucydides. Dalam bidang ilmu pasti, tokoh yang terkenal adalah Pythagoras dan Archimedes. Pendapat para pemikir bangsa Yunani itu sampai sekarang masih dipakai.
Kekaisaran Romawi barangkali adalah entitas politik paling signifikan dalam sejarah dunia Barat sebelum abad ke-19, bahkan mungkin selamanya. Ini mencakup seluruh Eropa Barat, dari skotlandia hingga Gibraltar saat ini dan dari Rhineland ke laut Hitam, Turki serta Afrika Utara, dari Laut Mediterania sampai ke gurun Sahara. Pendeknya, setiap pantai di mana terdapat perairan Medirenia, disitulah wilayah kekuasaan Romawi
Organisasi politik Romawi, kesusasteraan Romawi, bahkan alfabet Romawi, sangat mempengaruhi kebudayaan-kebudayaan yang datang kemudian di Eropa dan Amerika, dan pengaruh tersebut masih dapat disaksikan saat ini. Namun, sebelum adanya kekaisaran Romawi, sudah terdapat Roma, sebuah kotadi sisi barat semenanjung Italia. Legenda mengatakan bahwa kota Roma didirikan pada 753 SM, sebuah fakta yang dikonfirmasikan oleh bukti arkeologis.
Menurut legenda, ada dua orang laki-laki bersaudara, Amulius, dan saudaranya yang bernama Askanius, raja lavinicum. Amulius membunuh Askanius dan putranya, lalu merebut takhta kerajaan. Rencana ini berhasil sampai putri Askanius, Rhea Silvia, melahirkan dua putra kembar. Amulius memerintahkan agar Silvia dipenjarakan dan kedua putra kembar itu dibuang ke sungai Tiber. Namun, mereka selamat dan kemudian dirawat oleh seekor serigala betina. Seorang penggembala menemukan kedua anak itu dan menyelamatkannya dari si serigala. Ia dan istrinya menamai mereka Romulus dan Remus, lalu merawat mereka hingga dewasa. Pada atau sekitar 753 SM, kedua bersaudara ini mendirikan sebuah kota baru di bukit palatine yang berlokasi di kota Roma saat ini. Tetapi, mereka terus menerus bertengkar, dan akhirnya Romulus membunuh saudaranya sendiri.
Kota itu kemudian dinamai, yang diambil dari nama Romulus dan bertumbuh menjadi kota penting. Romulus melaksanakan politik perluasan kekuasaan yang mencakup penaklukkan atas wilayah-wilayah berdekatan dengan cara kekerasan. Inilah awal dari sebuah kekaisaran yang akan berlangsung seribu tahun.


Corak peradaban Yunani: kekotaan, borjuis, dan duniawi. Kekotaan artinya polis Yunani itu merupakan sebuah negraa kecil yang merdeka, tidak merupakan sebagian sebagian dari sebiah kerajaan besar. Borjuis dan duniawi maksudnya yang menjadi pendukung kebudayaan bukan suatu golongan yang dilindungi oleh raja melainkan penduduk kota itu sendiri

PERADABAN MESIR

A. Letak Geografis Mesir
Keadaan geografis negeri Mesir hampir sama dengan Mesopotamia. Namun, yang membedakan antara kedua daerah ini adalah, jika proses munculnya peradaban di Mesopotamia (dari zaman batu sampai munculnya peradaban) berjalan dengan lamban, proses peradaban di Mesir (dari neolithikum sampai munculnya budaya kekotaan) sangat cepat. Sangat mungkin bila hal itu disebabkan karena keberadaan Sungai Nil. Oleh karena itulah Herodotus menyebut negeri Mesir dengan sebutkan “Berkat dari Sungai Nil”. Peradaban Nil menurutnya adalah hadiah dari Sungai Nil (Daldjoeni, 1995: 64)
Sungai Nil mempunyai peran yang sangat penting bagi munculnya peradaban di daerah Mesir. Sekitar 10.000 tahun yang lalu, iklim di daerah Mediteran tampaknya berubah. Hujan semakin berkurang. Bangsa pengembara mulai berpindah mendekati Sungai Nil. Sungai itu merupakan sungai terbesar di Afrika Utara. Di dekat muaranya, Sungai Nil membentuk delta yang luas yang sebagian besar berupa rawa dan sebagian berupa tanah keras. Panjang Sungai Nil ± 6670 km yang bermuara di Laut Tengah. Daerah lembah sungai itu dipagari oleh padang pasir yang sangat luas. Selain itu, daerah di samping Sungai Nil merupakan daerah yang sangat hijau, sedangkan tak jauh dari daerah hijau ini terdapat pemandangan yang sangat kontras, yaitu padang gurun yang sangat gersang. Pada masa prasejarah, lembah-lembah lateral yang kini sepenuhnya kering, mungkin masih cukup basah sehingga memungkinkan diselenggarakan pertanian yang efektif. Di daerah banjir di dekat Nil dan Delta dahulu telah merupakan suatu daerah pemukiman yang cukup mapan, antara 5000-4000 SM. Hal Ini merupakan fase sejarah yang stabil dan panjang. Setiap setahun sekali Sungai Nil meluapkan airnya ke areal pertanian yang memang telah disiapkan untuk menampung air luapan tersebut. Oleh karena itu di sini diperlukan suatu cara untuk mengendalikan banjir itu, sebagaimana kini masih dilakukan di banyak tempat di dunia. Setiap tahun endapan dari Sungai Nil membawa endapan baru yang dapat menyuburkan daerah itu. Sehingga pada zaman kuno orang-orang Mesir hidup di daerah tepian Sungai Nil, dan biasanya tidak lebih jauh dari 15-50 km dari Sungai Nil. Mereka hidup bercocok-tanam di tepian Sungai Nil yang subur. Untuk itu, secara bertahun-tahun bangsa Mesir kuno mempelajari cara-cara mengairi daerah yang tandus. Saluran-saluran digali untuk mengalirkan air dari Sungai Nil ke tanah mereka yang tandus. Mereka menggunakan semacam timba sederhana untuk mengangkat air sungai ke daerah yang lebih tinggi letaknya. Pertanian berkembang dengan baik. Mereka mengolah tanahnya dengan menggunakan bajak yang ditarik sapi. Mereka mengamati iklim sepanjang tahun untuk menentukan saat yang tepat untuk mulai bercocok tanam dan memperkirakan saat datangnya banjir.
Jelaslah bahwa penghuni daerah sekitar Sungai Nil dalam kehidupannya sangat tergantung pada air Sungai Nil. Melihat kondisi seperti itu, penggalian saluran-saluran untuk pengaturan dan pembagian air bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan secara individu melainkan harus dikerjakan oleh masyarakat seluruhnya. Untuk mengatur semua itu harus ada suatu kekuasaan yang dapat ditaati oleh semua orang. Muncullah di Mesir suatu pemerintahan di bawah seorang raja yang berkuasa secara mutlak.
Dengan gambaran itu kita melihat, bahwa tanpa Sungai Nil, maka daerah ini menjadi daerah yang mati. Tetapi karena Sungai Nil, maka daerah ini menjadi daerah yang tersubur di daerah Timur Tengah.
Sejarah Mesir pertama kali muncul di Mesir Hulu, sebuah lembah sempit di Sungai Nil. Negeri ini terbagi atas 3 bagian yaitu lembah Nil atas yang sempit, bagian delta yang lebar, dan daerah gurun dengan oase-oasenya yang mengapit Sungai Nil. Secara geografis penduduk yang tinggal di tepian sungai ini dapat dipisahkan menjadi dua bagian, yang masing-masing mempunyai ciri yang berbeda, yaitu daerah Mesir atas yang terletak di sebelah selatan dan daerah Mesir bawah yang terletak di sebelah utara. Terdapat suatu perbedaan yang sangat tajam antara kedua daerah ini. Penduduk di daerah Mesir atas biasanya menekuni dalam bidang peternakan, di antaranya beternak biri-biri, babi, dan kerbau sedangkan Mesir bawah menekuni pertanian. Dengan kondisi tanah yang baik dan yang tandus, penduduk lembah Sungai Nil dipaksa untuk bertani dengan cara yang intensif sehingga sejak zaman prasejarah di situ hidup suatu bangsa yang memiliki mata pencaharian bertani dengan panenan 3 kali dalam setahun (Daldjoeni, 1982:61-64).

B. Keadaan alam, tumbuhan dan hewan-hewan
Sifat suatu bangsa serta budayanya terutama ditentukan oleh keadaan bumi di mana bangsa tersebut bertempat tinggal. Keadaan tanah, cara khas bertani dan hasil pertaniannya, seluk beluk iklim dan permusimannya, luas areal pertanian, semuanya itu menentukan pembangunan bidang ekonomi dan politik suatu bangsa. Di Mesir kuno hal-hal tersebut dapat dilihat kenyataannya pada bangsa yang mendiami lembah Sungai Nil bagian atas maupun bagian bawah yang pada akhirnya membentuk suatu kota. Munculnya kota-kota di Mesir pada dasarnya memiliki pola yang sama dengan di Mesopotamia. Tetapi pola ini berubah sekitar 3300 SM ketika kota-kota dan desa-desa di sepanjang Sungai Nil menyatukan diri menjadi dua buah kerajaan, yakni Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Pada 3100 SM, Fir’aun Mesir (Raja Menes) menyatukan kedua bagian Mesir tersebut ke dalam sebuah entitas tunggal yang merupakan kekaisaran pertama di dunia. Di bawah pemerintahan para Fir’aun inilah yang berlangsung selama 2500 tahun, Mesir memiliki sebuah kebudayaan yang berbeda dari sebelumnya. Farao menyebutkan dirinya raja, penguasa Mesir Hilir dan Mesir Hulu.
Perkembangan bidang pertanian dan peternakan ini tidak lepas dari peranan Sungai Nil, kondisi geografis dan klimatologis dari wilayah tersebut. Tempat lahirnya peradaban manusia memang di lembah-lembah sungai besar, khususnya Nil, Eifrat dan Tigris. Baik lembah Nil maupun Eufrat-Tigris mengandung latar belakang alami yang baik untuk terjadinya permukiman permanen, dengan perincian keterangan sebagai berikut:
a. adanya sungai besar dengan luapan airnya secara periodik, memberikan kesuburan yang berupa lumpurnya, sehingga terjaminlah panenan yang kaya.
b. Tersedianya banyak hewan liar, baik binatang menyusui, aneka burung terbang dan yang tidak terbang.
c. Terapit oleh gurun yang berfungsi sebagai pengahalang bagi serbuan musuh dari luar.
d. Adanya langit subtropika yang terang sepanjang tahun memungkinkan manusia melakukan penyelidikan atas benda-benda langit yang dihubungkan dengan kegiatan pertanian. Akhirnya muncul astronomi dan ilmu pasti yang mendorong berbagai penemuan lainnya (Daldjoeni, 1982: 62)
Walaupun sebelum jaman kuno penduduk Mesir telah membina daerah yang maju. Terutama sekali mereka telah mulai bercocok tanam, menggunakan perkakasan tembaga manggantikan perkakasan batu dan tidak lama sebelum 3100 SM mereka telah membangun tulisan yang dikenal sebagai Hieroglief.

C. Sistem Kekuasaan Raja-Raja Mesir
Sejarah politik di Mesir berawal dari terbentuknya komunitas-komunitas di desa-desa sebagai kerajaan-kerajaan kecil dengan pemerintahan desa. Desa itu disebut nomen. Dari desa-desa kecil berkembanglah menjadi kota yang kemudian disatukan menjadi kerajaan Mesir Hulu. Proses tersebut berawal dari tahun 4000 SM namun pada tahun 3400 SM seorang penguasa bernama Menes mempersatukan kedua kerajaan tersebut menjadi satu kerajaan Mesir yang besar.
Mesir merupakan sebuah kerajaan yang diperintah oleh raja yang bergelar fir’aun. Ia berkuasa secara mutlak. Fir’aun dianggap dewa dan dipercaya sebagai putra Dewa Osiris. Seluruh kekuasaan berada ditangannya baik sipil, militer maupun agama.
Sebagai penguasa, fir’aun mengklaim atas seluruh tanah kerajaan. Rakyat yang tinggal di wilayah kerajaan harus membayar pajak. Untuk keperluan tersebut fir’aun memerintahkan untuk sensus penduduk, tanah, dan binatang ternak. Ia membuat undang-undang dan karena itu menguasai pengadilan. Sebagai penguasa militer fir’aun berperan sebagai panglima perang, sedangkan pada waktu damai ia memerintahkan tentaranya untuk membangun kanal-kanal dan jalan raya.
Untuk menjalankan pemerintahannya fir’aun mengangkat para pejabat yang pada umunya berasal dari golongan bangsawan. Ada pejabat gubernur yang memerintah propinsi, panglima ketentaraan, hakim di pengadilan dan pendeta untuk melaksanakan upacara keagamaan. Salah satu jabatan penting adalah wazir atau Perdana Menteri yang umumnya dijabat oleh putra mahkota.
Sejak tahun 3400 SM sejarah Mesir diperintah oleh 30 dinasti yang berbeda yang terdiri dari 3 zaman yaitu kerajaan Mesir Tua yang berpusat di Memphis, kerajaan Tengah di Awaris dan Mesir Baru di Thebe.
Secara garis besar keadaan pemerintahan rja-raja Mesir adalah sebagai berikut:

1. Kerajaan Mesir Tua (2660-2180 SM)
Lahirnya kerajaan Mesir Tua setelah Menes berhasil mempersatukan Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Sebagai pemersatu ia digelari Nesutbiti dan digambarkan memakai mahkota kembar. Kerajaan Mesir Tua disebut zaman piramida karena pada masa inilah dibangun piramida-piramida terkenal misalnya piramida Sakarah dari fir’aun Zosser. Piramida di Gizeh adalah makam fir’aun Cheops, Chifren dan Menkawa. Runtuhnya Mesir Tua disebabkan karena sejak tahun 2500 SM pemerintahan mengalami kekacauan. Bangsa-bangsa dari luar misalnya dari Asia Kecil melancarkan serangan ke Mesir. Para bangsawan banyak yang melepaskan diri dan ingin berkuasa sendiri-sendiri. Akhirnya terjadilah perpecahan antara Mesir Hilir dan Mesir Hulu.

2. Kerajaan Mesir Tengah (1640-1570 SM)
Kerajaan Mesir Tengah dikenal dengan tampilnya Sesotris III. Ia berhasil memulihkan persatuan dan membangun kembali Mesir. Tindakannya antara lain membuka tanah pertanian, membangun proyek Irigasi, pembuatan waduk dan lain-lain. Ia meningkatkan perdagangan serta membuka hubungan dagang dengan Palestina, Syria dan pulau Kreta. Sesotris III juga berhasil memperluas wilayah ke selatan samapai Nubia (kini Ethiopia). Sejak tahun 1800 SM kerajaan Mesir tengah diserbu dan ditaklukkan ole bangsa Hyksos.
3. Kerajaan Mesir baru (1570-1075 SM)
Lembah Nil sudah menjadi kawasan tempat kekal manusia sejak zaman Paleolitik. Penduduk awal bercocok tanam, memburu serta memancing untuk dapat hidup. Menjelang 6000 SM kehidupan penduduk menjadi lebih berorganisasi. Fir’aun Menes telah menyatukan wilayah-wilayah di lembah Nil dan menubuhkan kerajaan Mesir yang pertama pada 3200 SM. Dengan ini, pemerintahan Mesir secara dinasti bermula.

D. Sejarah Mesir Kuno
Sejarah Mesir kuno dibagi menjadi masa Pradinasti dan masa Dinasti. Pada masa Pradinasti, daerah Mesir terbagi menjadi beberapa bagian. Pada akhir abad ke-4000 SM, daerah Mesir yang terpecah-pecah itu disatukan menjadi dua kelompok besar yang dikenal dengan sebutan Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Kedua bagian itu kemudian disatukan di bawah pemerintahan Menes. Sejak saat itu mulai dikenal masa Dinasti. Penyatuan Mesir yang menandakan permulaan jaman kuno bermula sekitar 3100 SM. Sebelum itu Mesir atas (selatan) dan Mesir bawah (utara) dikuasai oleh pemerintah yang berlainan. Dengan penyatuan kedua wilayah ini membenarkan sistem pusat dan pengaliran perdagangan sepanjang Sungai Nil. Dalam riwayat tradisi penyatuan Mesir dikatakan oleh pahlawan dari selatan yang bernama Narmer, Firaun pertama yang berjaya menguasai seluruh Mesir utara sehingga ke delta Mediterranean. Kemungkinannya proses penyatuan tersebut berlaku secara perlahan-lahan.
Firaun merupakan pemerintah kedua kerajaan ini dan mengetuai struktur negara Mesir silam. Firaun bertindak sebagi raja, pemimipin kerohanian dan commander-in-chief bagi kedua tentara darat dan tentara laut. Firaun dianggap dewa, hubungan antara manusia dan para dewata dibawahnya adalah kerajaan yang dibagi dua ( satu bagi Mesir atas dan satu lagi bagi Mesir bawah).
Menjelang tahun 3000 SM, kerajaan-kerajaan kecil itu telah dapat membentuk dua buah kerajaan besar yaitu Mesir Hulu di daerah Selatan dengan Thebes sebagai ibu kotanya (kini Luxor) dan Mesir Hilir di bagian Utara dengan Memphis sebagai ibu kotanya. Raja Mesir Hilir yang bernama Menes telah berhasil menyatukan dua buah kerajaan tersebut dengan mengekalkan Memphis sebagai ibukota.
Bangsa Yunani menyatakan bahwa Memphis merupakan sebuah ibukota Mesir purba (2615-1920). Di kota inilah didirikan kerajaan Mesir awal daripada dinasti pertama (3200 SM). setelah itu, terbentuknya kerajaan Mesir baru (1570-322 SM), maka ibukotanya dipindahkan dari Memphis ke Thebes.
Rakyat Mesir itu sendirilah yang menghubungkan daerah hulu dan hilir menjadi satu kerajaan besar dengan Menes sebagai pendiri dinasti yang pertama. Banyak penemuan arkeologis yang menunjukkan adanya kebudayaan yang cukup tinggi sebelum munculnya dinasti Menes. Dari ibukotanya di Memphis, dinasti ini memerintah apa yang disebut :kerajaan kuno” yang membentang dari Mesir Hulu ke daerah Hilir. Di bawah dinasti berikutnya, yakni Dinasti IV (2600-2500 SM) dibangunlah piramid-piramid yang terkenal di Gizeh. Piramid-piramid itu dibangun oleh Cheops dan raja-raja lain sebagai tempat pemakaman mereka.
Raja-raja dinasti I-IV diantaranya adalah Khufu, Khafre, dan Menkaure, mendirikan bangunan mastabo (makam), piramida, dan bangunan untuk pemujaan dewa penguasa kota Memphis. Dewa lainnya yang dipuja adalah Ra, Osiris, dan Isis. Bangunan piramida yang didirikan oleh dinasti I-IV antara lain adalah piramida Teras Zosser dan piramida Cheops atau Khufu di Gizeh. Piramida-piramida itu ada yang didampingi oleh arca Sphynx.

E. Masa Kerajaan baru
Kerajaan berikutnya disebut Kerajaan baru. Kerajaan itu berlangsung selama 500 tahun (1560-1085 SM). Pada masa itu Kerajaan Mesir merupakan negara yang terkuat di dunia. Masa kejayaannya telah berlangsung sejak tahun 1560 SM, di bawah pemerintahan Raja Ahmosis dinasti XVIII, berhasil mengusir tentara Hyksos yang masih menguasai sebagian wilayah Mesir. Ia mempunyai tentara yang terlatih baik dalam menggunakan kereta kuda. Kota Thebe kembali menjadi kota penting. Amon diangkat sebagai dewa kota. Ia disamakan dengan Re sehingga disebut juga Amon-Re.
Salah seorang pengganti Ahmosis adalah Ratu Hatshepsut. Ia merupakan wali dari Thutmosis III yang saat itu masih kecil. Setelah menjadi raja, Thutmosis III dikenal dengan sebutan “Napoleon dari Mesir”. Ia menaklukkan dan menjalin persahabatan dengan daerah lain. Daerah kekuasaannya terbentang dari lembah Sungai Tigris dan Eufrat di timur laut, Asia Kecil dan Kreta di utara, Libya di barat, dan Nubia di selatan.
Pada akhir abad ke-17 SM pemerintah selatan Mesir (atas) melancarkan pemberontakan terhadap Hyksos. Ahmose merupakan penguasa Dinasti ke-18, ia berkuasa dari 1560-1087 SM. Secara berurutan Mesir diperintah oleh tiga dinasti secara berturutan yaitu dinasti ke-18, 19 dan 20. Corak pemerintahan Kerajaan baru menyerupai Kerajaan lama, tetapi lebih mutlak. Kuasa ketentaraan kini menjadi asas pemerintahan fir’aun. Fir’aun agung yang terakhir adalah Ramses II yang memerintah dari 1182-1151 SM. Setelah itu, terbentuk kerajaan Mesir baru (1570-322 SM), maka ibukotanya dipindahkan dari Memphis ke Thebes.
Sesudah diduduki bangsa Hyksos, Mesir memasuki zaman kerajaan Baru atau zaman imperium. Disebut zaman imperium karena para Fir’aun Mesir berhasil merebut wilayah di Asia Barat termasuk Palestina, Funisia dan Syiria. Raja-raja yang memerintah zaman Mesir baru antara lain:
1. Ahmosis 1, ia berhasil mengusir bangsa Hyksos dari Mesir sehingga berkuasalah dinasti ke-18, ke-19 dan ke-20.
2. Thutmosis 1, pada masa pemerintahannya Mesir berhasil menguasai Mesopotamia yang subur.
3. Thutmosis III, merupakan raja terbesar di Mesir, ia memerintah bersama istrinya Hatshepsut. Batas wilayah kekuasaannya di timur sampai Syria, di selatan sampai Nubia, di barat sampai Lybia dan di utara sampai pulau Kreta dan Sicilia. Karena tindakannya tersebut ia digelari “Napoleon dari Mesir”. Thutmosis III juga dikenal karena memerintahkan pembangunan kuil Karnak dan Luxor.
4. Amenhotep IV, kaisar ini dikenal seorang raja yang pertama kali memperkenalkan kepercayaan yang bersifat monotheis kepada rakyat Mesir Kuno yaitu hanya menyembah dewa Aton (dewa matahari) yang merupakan roh dan tidak berbentuk. Ia juga menyatakan sebagai manusia biasa dan bukan dewa.
5. Ramses II, dikenal membangun bangunan besar bernama Ramesseum dan Kuil serta makamnya di Abusimbel. Ia juga pernah memerintahkan penggalian sebuah terusan yang menghubungkan daerah Sungai Nil dengan Laut Merah namun belum berhasil. Masa ramses II diperkirakan sejaman dengan Nanbi Musa
Setelah pemerintahan Ramses II kekuasaan di Mesir mengalami kemunduran. Mesir ditaklukkan Assyria pada tahun 670 dan pada tahun 525 SM menjadi bagian imperium Persia. Setelah Persia, Mesir dikuasai oleh Iskandar Zulkarnaen dan para penggantinya dari Yunani dengan dinasti terakhir Ptolemeus. Salah satu keturunan dinasti Ptolemeus adalah Ratu Cleopatra dan sejak tahun 27 SM, Mesir menjadi wilayah Romawi.
Sejarah Mesir mengalami perubahan di bawah pimpinan Amenhotep IV atau Ikhnaton. Ia memperkenalkan penyembahan dewa matahari yang disebut Aton. Dewa itu dikatakan sebagai pengganti Amon dan segala dewa lainnya, kecuali Re, karena Re merupakan bagian dari Aton. Ibu kota kerajaannya dipindahkan ke Akhetaton, 5000 kilometer di utara Memphis dan Thebe.

F. Hasil Kebudayaan bangsa Mesir
1. Sistem Kepercayaan
Masyarakat Mesir mengenal pemujaan terhadap dewa-dewa. Ada dewa yang bersifat nasional yaitu Ra (dewa matahari), amon (dewa bulan) kemudian Amon-Ra. Sebagai lambang pemujaan kepada Ra didirikan obelisk yaitu tiang batu yang ujungnya runcing. Obelisk juga dipakai sebagai tempat mencatat kejadian-kejadian. Untuk pemujaan terhadap dewa Amon-Ra dibangunlah kuil karnak yang sangat indah pada masa Raja Thutmosis III.
Selain dewa nasional maka ada dewa-dewa lokal yang dipuja pada daerah-daerah tertentu seperti Dewa Osiris yaitu hakim alam baka, Dewi Iris yaitu dewi kecantikan isteri Osiris, Dewa Aris sebagai dewa kesuburan dan dewa Anubis yaitu dewa kematian. Wujud kepercayaan yang berkembang di Mesir berdasarkan pemahaman sebagai berikut:
1. Penyembahan terhadap dewa berangkat dari ide/gagasan bahwa manusia tidak berdaya dalam menaklukkan alam.
2. Yang disembah adalah dewa/dewi yang menakutkan seperti dewa Anubis atau yang memberi sumber kehidupan.
Kepercayaan yang kedua berkaitan dengan pengawetan jenazah yang disebut mumi. Dasarnya membuat mummi adalah bahwa manusia tidak dapat menghindari dari kehendak dewa maut. Manusia ingin tetap hidup abadi. Agar roh tetap hidup maka jasad sebagai lambang roh harus tetap utuh.
Bangsa Mesir Kuno percaya bahwa selama tubuh jasmani manusia masih utuh (meskipun sudah meninggal), ia sebenarnya masih hidup. Oleh karena itu, bangsa Mesir kuno selalu mengawetkan mayatnya dengan cara dibalsem. Mayat diawetkan dengan menggunakan ramuan rempah-rempah dan wewangian. Setelah itu, mayat dibalut dengan kain tipis sampai seluruh tubuh mayat tertutup, lalu dimasukkan ke dalam peti. Mayat yang sudah dibalsem itu disebut mumi. Selain mayat, peti mati itu dilengkapi dengan berbagai bahan kebutuhan hidup, seperti makanan, pakaian, minuman, dan perhiasan. Peti yang berisi mumi itu kemudian disimpan di makam yang dibuat berundak dan dilengkapi dengan alat-alat pengaman agar tidak diganggu orang. Peti mayat Firaun disimpan di dalam piramida.
Setelah munculnya doktrin bahwa kekuasaan raja itu tak terbatas, maka gambaran yang paling menyolok dari agama Mesir kuno adalah penekanannya yang begitu obsesif pada alam hidup setelah mati. Secara harfiah, ini merupakan keprcayaan yang lebih menekankan pada ketidakmatian badan daripada kepercayaan yang mengajarkan bahwa roh itu tidak akan pernah mati.
Akhirnya kepercayaan orang Mesir akan tidak adanya kematian terekspresikan dalam pemujaan terhadap dewa yang khusus, Osiris yang diidentifikasikan dengan Sungai Nil, saudara perempuannya Issis yang Ia kawini, diidentifikasikan dengan tanah dan kesuburan.
Agama Mesir kuno yang populis itu muncul sebagai semacam politheisme dengan ritualismenya yang cukup rutin. Dalam perkembangan selanjutnya golongan pendeta melakukan penghalusan kepecayaan politheistik pada monotheisme dengan hanya menyembah Ikhnaton (1375-1358 SM). Raja ini mengajarkan agama Aton, cakra matahari, cakra yang memancar dari sinar-sinar yang masing-masing sinar itu berakhir ditangan manusia.

2. Tulisan
Masyarakat Mesir mengenal bentuk tulisan yang disebut Hieroglyf berbentuk gambar. Tulisan Hieroglif ditemukan di dinding piramida, tugu obelisk maupun daun papirus. Huruf Hieroglyf terdiri dari gambar dan lambang berbentuk manusia, hewan dan benda-benda. Setiap lambang memiliki makna. Tulisan Hieroglifh berkembang menjadi lebih sederhana kemudian dikenal dengan tulisan hieratik dan demotis. Tulisan hieratik atau tulisan suci dipergunakan oleh para pendeta. Demotis adalah tulisan rakyat yang dipergunakan untuk urusan keduniawian misalnya jual beli.
Huruf-huruf Mesir pada waktu itu semula menimbulkan teka-teki karena tidak diketahui maknanya. Secara kebetulan pada waktu Napoleon menyerbu Mesir pada tahun 1799 salah satu anggota pasukannya menemukan sebuah batu besar berwarna hitam di daerah Rosetta.
Batu itu kemudian dikenal dengan batu Rosetta memuat inskripsi dalam tiga bahasa. Pada tahun 1822 J.F. Champollion telah menemukan arti dari isi tulisan batu Rosetta dengan membandingkan tiga bentuk tulisan yang digunakan yaitu Hieroglif, Demotik dan Yunani.
Selain di batu, tulisan Hieroglif juga ditemukan di kertas yang terbuat dari batang papirus. Dokumen papirus sudah digunakan sejak dinasti yang pertama. Cara membuat kertas dari gelagah papirus adalah dengan memotongnya. Kemudian kulitnya dikupas dan intinya diris/disayat tipis-tipis.
Pengkaji Mesir purba (Egyptologis) merujuk kepada tulisan Mesir sebagai Hieroglief bersama dengan Cuneiform script Mesopotamia sebagai sistem penulisan tertua di dunia. Hieratic adalah bentuk Hieroglief Mesir bersambung yang pertama sekali digunakan semasa dinasti pertama ( 2925-2775 SM ).
Di kampung Rasyid terdapat sebuah prasasti yang mengandung catatan Ptolomeus V dari Yunani tahun 320 SM. Catatan tersebut didapat di dalam tiga tulisan yaitu Hieroglifs, demotic dan Coptic. Dalam tulisan tersebut terdapat nama Ptolemy dan Cleopatra. Ptolemy merupakan silsilah raja-raja Mesir yang berjumlah 15 orang dari mulai tahun 304-30 SM. Mereka menjadikan Iskandariah sebagai kota pemerintahan. Bertitik tolak dari saat itulah, tulisan hieroglifs sudah dapat dibaca sehingga mampu menyingkap sejarah Mesir Purba.
Kita dapat tahu banyak tentang Mesir Kuno berkat penerjemahan penggalan-penggalan sejarah Mesir ke dalam bahasa Yunani serta penelitian-penelitian arkeologis yang cukup cermat. Di samping itu sumber lainnya adanya inskripsi-inskripsi yang jumlahnya melimpah serta adanya papyrus-papyrus yang jumlahnya juga tidak sedikit. (papyrus adalah semacam kertas yang terbuat dari sejenis alang-alang yang kemudian diawetkan di udara yang kering). Bahasanya, bahasa di dalam papyrus itu pertama kali berhasil diungkap oleh seorang Prancis Champoleon dari Batu Rosetta yang ditemukan di Delta pada tahun 1799.
Untuk bidang kesusastraan hanya ada beberap contoh yang sampai di tangan kita, adanya berbagai variasi bentuj karya sastra yakni puisi, cerita pendek, sejarah, karya-karya tentang astronomi dan matematika dasar. Kesusastraan Mesir, khususnya aphorisme-aphorisme yang bernada kecewa atau ungkapan-ungkapan moralnya.
Dari hasil pengamatan itu, akhirnya mereka dapat membuat suatu sistem penanggalan. Satu tahun dibagi menjadi 12 bulan dan 365 hari. Mereka juga mengenal tulisan yang disebut tulisan hieroglif.

3. Sistem kalender
Masyarakat Mesir mula-mula membuat kalender bulan berdasarkan siklus (peredaran) bulan selama 29 ½ hari. Karena dianggap kurang tetap kemudian mereka menetapkan kalender berdasarkan kemunculan bintang anjing (Sirius) yang muncul setiap tahun. Mereka menghitung satu tahun adalah 12 bulan, satu bulan 30 hari dan lamanya setahun adalah 365 hari yaitu 12x30 hari lalu ditambahkan 5 hari. Mereka juga mengenal tahun kabisat. Penghitungan ini sama dengan kalender yang kita gunakan sekarang yang disebut tahun Syamsiah (sistem Solar). Penghitungan kalender Mesir dengan sistem Solar kemudian diadopsi (diambil alih) oleh bangsa Romawi menjadi kalender Romawi dengan sistem Gregorian. Sedangkan bangsa Arab kuno mengambil alih penghitungan sistem lunar (peredaran bulan) menjadi tarik Hijriah.
Menurut penelitian Ed. Mayer penanggalan Mesir kuno dipakai sejak 19 Juli 4241 SM. Dalam penanggalan Mesir Kuno satu tahun ada 360 hari. Tahun baru dirayakan pada bulan Juli yakni hari permulaan banjirnya Sungai Nil. Tanggal ini bertepatan dengan munculnya kembali di langit bintang Sotis (Syrius) pada pagi hari.
Satu tahun dibagi menjadi 12 bulan yang panjangnya masing-masing ada 30 hari. Pada akhir tahun diadakan 5 hari tambahan sehingga setahun menjadi 365 hari. Tiap empat bulan mewujudkan
Suatu musim khusus masa banjir (echet), masa tanam (projet), masa tuai (Sjomu).
Setiap tahun pada pertengahan bulan Juni air Sungai Nil mulai naik. Ini disebabkan karena sungai tersebut ketambahan air dari wilayah hulunya (Sungai Nil Biru dan sungai Ataba) di Ethiopia, di mana juga ada banyak pencairan salju. Baru pada pertengahan bulan Juli terjadi peluapan hebat di bagian hilir, yaitu di Mesir; ini berakhirnya lambat yaitu pada bulan November berikutnya.
Kemudian dalam bulan Januari, Februari dan Maret, ladang-ladang gandum yang pernah keluapan air Sungai Nil, menjadi kering. Mulai bulan April barulah permukaan sungai tersebut mencapai ketinggian yang terendah.
Selain berpedoman pada meluapnya tahunan Sungai Nil, para ahli perbintangan Mesir berusaha menyempurnakan penanggalan Mesir, yang panjangnya setahun sudah diketahui 365 ¼ hari seperti dalam kalender. Untuk mudahnya satu tahun dibagi menjadi 12 bulan, dengan panjang masing-masing 30 hari. Adapun kekurangannya sebanyak 5 hari ekstra. Lalu kekurangan ¼ hari, dibiarkan saja selama empat tahun, untuk kemudian disatukan menjadi hari ekstra yang keenam; inilah yang disebut tahun kabisat.
Puncak-puncak kebudayaan Mesir cenderung terjadi bersamaan dengan periode kejayaan politik atau paling tidak bangkitnya kembali penguasa pribumi. Walaupun korelasi ini agaknya tidak sempurna atau sedikit naif namun ternyata banyak karya-karya seni Mesir yang berasal dari Dinasti kerajaan Lama, Kerajaan Madya dan Kerajaan Baru, misalnya piramid-piramid besar berasal dari periode Kerajaan Tua atau Lama.
Masyarakat Mesir yang hidup dalam zaman antik itu dibentuk oleh suatu kesatuan ekonomi yang terkontrol secara ketat. Masyarakat Mesir terdiri dari kaum pendeta dan bangsawan yang jumlahnya kecil yang berada di atas masa penggarap tanah yang jumlahnya besar, atau kelompok mayoritas dalam stratifikasi sosial masyarakat itu. Hampir segala kehidupan ekonomi di Mesir, mulai dari pengedalian banjir Sungai Nil hingga distribusi hasil panen, diatur dan direncanakan dari atas yakni daro orang-orang disekitar sang Pharaoh. Tanah adalah milik Pharaoh, Pharaoh dianggap sedemikian sakralnya sehingga namanya “ Per-O “, diartikan rumah agung.
Tersentralisasikannya sistem penguasa tanah. Masyarakat Mesir adalah masyarakat yang didasarkan atas kepercayaan keagamaan yang merupakan cara yang sangat efektif untuk mempertahankan suatu masyarakat yang terorganisir secara Hierarkhis.

4.Seni bangunan (arsitektur)
Dari peninggalan bangunan-bangunan yang masih bisa disaksikan sampai sekarang menunjukkan bahwa bangsa Mesir telah memiliki kemampuan yang menonjol di bidang matematika, geometri dan arsitektur. Peninggalan bangunan Mesir yang terkenal adalah piramida dan kuil yang erat kaitannya dengan kehidupan keagamaan.
Piramida dibangun untuk tempat pemakaman fir’aun. Arsitek terkenal pembuat piramida adalah Imhotep. Bangunan ini biasanya memiliki kamar bawah tanah, pekarangan dan kuil kecil di bagian luarnya.
Tiang-tiang dan dindingnya dihiasi yang indah. Di bagian dalam terdapat lorong-lorong, lubang angin dan ruang jenazah raja. Di depan piramida terdapat spynx yaitu patung singa berkepala manusia. Fungsi spynx adalah penjaga piramida.
Piramida terbesar adalah makam raja Cheops, yang tingginya mencapai 137 meter di Gizeh. Selain Cheops, di Gizeh juga terdapat piramida Chefren dan Menkaure. Di Sakarah terdapat piramida fir’aun Zosser. Selain piramida apakah ada tempat pemakaman yang lain di Mesir? Berdasarkan penggalian di daerah El badari ditemukan pemakaman yang disebut Hockerbestattung (Hocker artinya jongkok dan besttatung artinya pemakaman) karena orang yang meninggal dimasukkan dengan cara didudukkan menjongkok. Ada pula pemakaman yang disebut mastaba untuk golongan bangsawan.
Bangunan kedua adalah kuil yang berfungsi sebagai tempat pemujaan dewa-dewa. Kuil terbesar dan terindah adalah Kuil Karnak untuk pemujaan Dewa Amon Ra.
Kuil Karnak panjangnya kurang lebih 433 m (1300 kaki), tiang-tiangnya setinggi 23,5 m dengan diameter kurang lebih 6,6 m (20 kaki). Tembok, tiang dan pintu gerbang dipenuhi dengan lukisan dan tulisan yang menceritakan pemerintahan raja.
Tiap-tiap kota kecil dan besar tidak lagi harus bersifat mandiri dan akhirnya menjadi saling tergantung sama lain. Di tengah-tengah masyarakat ini, istana fir’aun memperoleh kemakmuran dan kekuasaan besar, baik secara politis maupun agama. Fir’aun menjadi lebih dari seorang raja, ia muncul di dunia untuk disembah sebagai proyek-proyek rekayasa teknik berukuran raksasa dibangun. Antara 3800 tahun SM dan 2500 SM, misalnya, lebih dari 35 piramid masih dibuat sebagai makam bagi para fir’aun itu. Yang terbesar, didirikan di bawah pemerintahan Fir’aun Cheops (2700-2675 SM), mempunyai tinggi sama dengan sebuah gedung berlantai 45.
Piramid dan bangunan besar lain yang didirikan oleh orang-orang Mesir adalah bukti luarbiasa mengenai apa yang pada saat itu dianggap sebagai kebudayaan paling maju di dunia, namun semua itu ahnyalah sebagian dari cerita. Sentralisasi kekaisaran memungkinkan berkembangnya seni dan ilmu pengetahuan terutama matematika dan astronomi melebihi apa yang diketahui sebelumnya di tempat manapun di dunia.
Piramida-piramida, reruntuhan bangunan di Karnak (Thebes). Sphinx, makam-makam yang terbuat dari batua-batuan karang, dekorasi dinding patung-patung yang kecil, bahkan perhiasan dan barang-barang yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pada mulanya seni-seni itu sangat kasar dan primitif, tetapi setelah diketemukan teknologi baru, maka seni-seni itu mengalami perkembangan. Patung-patung Mesir mempunyai kemiripan dengan patung-patung dari zaman Yunani kuno dan sehingga kita mengalami kesulitan untuk memahaminya.
Pengaruh-pengaruh itu tidak hanya berupa agama dan kesenian, tetapi juga keterampilan-keterampilan praktis misalnya seperti keahlian dalam bidang tukang batu, pengukuran tanah, tata buku dan akuntansi, perlogaman dan pertekstilan, pembuatan tembikar, keahlian dalam memasak dan pembalseman. Dari keahlian pembalseman dan mummifikasi, bangsa Mesir sesungguhnya sudah banyak belajar tentang anatomi manusia. Iklim di Mesir yang cukup kering menyebabkan mummi, papyrus, serta inskripsi-inskripsi dapat awet atau tersimpan dengan baik.


RANGKUMAN
Secara geografis Mesir terletak di Afrika Utara. Negara ini mempunyai pesisiran pantai Laut Mediterranean dan Laut Merah; ia bersebelahan dengan Libya di barat, Sudan di selatan, dan semenanjung Gaza, Palestina dan Israel ke Timur. Mesir purba terbagi kepada dua kerajaaan, dikenali sebagai Mesir Hulu dan Hilir. Berlainan dengan kebiasaan ,Mesir Hulu (Upper Egypt) terletak di selatan dan Mesir Hilir (Lower Egypt) di Utara, dinamakan menurut aliran Sungai Nil. Sungai Nil mengalir ke Utara dari titik selatan ke Mediterranean bukannya kebagian selatan daripada titik utara. Sungai Nil, yang merupakan tumpuan penduduk negara tersebut telah menjadi sumber kehidupan bagi kebudayaan Mesir semenjak kebudayaan Naqada dan Zaman Batu.
Mesir purba telah banyak dipengaruhi oleh Sungai Nil, yang telah membolehkan negara Mesir didiami manusia. Sungai Nil yang banjir secara berkala dengan tetap pada musim panas membawa bersamanya lumpur yang subur, dan surut tepat pada masanya pada musim menanam.
Sejarah Mesir pertama kali muncul di Mesir Hulu. Sebuah lembah sempit di Sungai Nil, sekitar 800 mil dari daerah antara Cataract dan delta Mesir Hilir, yakni di delta itu sendiri yang memanjang sepanjang 100 mil. Di daerah banjir di dekat Nil dan delta dahulu merupakan suatu daerah pemukiman yang cukup mapan, antara 5000-4000 SM. Banjir Sungai Nil yang demikian teraturnya sehingga pemimpin Mesir, mungkin kaum pendetanya, sejak dini mampu menghitung tahun matahari yang lamanya 365 hari. Setiap tahun endapan dari Sungai Nil membawa endapan baru yang dapat
Menjelang tahun 3000 SM, kerajaan-kerajaan kecil itu telah dapat membentuk dua buah kerajaan besar yaitu Mesir Hulu di daerah Selatan dengan Thebes sebagai ibu kotanya (kini Luxor) dan Mesir Hilir di bagian Utara dengan Memphis sebagai ibu kotanya. Raja Mesir Hilir yang bernama Menes telah berhasil menyatukan dua buah kerajaan tersebut dengan mengekalkan Memphis sebagai ibukota.
Bangsa Yunani menyatakan bahwa Memphis merupakan sebuah ibukota Mesir purba (2615-1920). Di kota inilah didirikan kerajaan Mesir awal daripada dinasti pertama (3200 SM).
Setelah itu, terbentuknya kerajaan Mesir baru (1570-322 SM), maka ibukotanya dipindahkan dari Memphis ke Thebes. Zaman purba Mesir purba merujuk kepada kebudayaan di lembah hulu Nil. Sebagai kebudayaan yang berasaskan pengairan Ia merupakan contoh jelas (quintessential example) empayar hidrolik.